Teks Cerita Sejarah
Museum Gereja Katedral
Pada awalnya, museum katedral
terletak di lantai dua, atau bagian balkon Katedral, namun kini telah
dipindahkan, menempati ruangan khusus yang terletak di sebelah toko buku di
kawasan Katedral Jakarta. Museum Katedral buka hampir setiap hari, kecuali hari
Jumat, dan pengunjung tidak dipungut biaya untuk masuk, namun harus mengisi
buku tamu terlebih dahulu.
Perencana dan
arsitek pembangunan gereja Katedral adalah Father Antonius Dijkmans.
Pembangunan gereja Katedral dimulai pada tahun 1891 dan sempat dihentikan
karena kekurangan biaya. Kemudian pembangunan Katedral dilanjutkan kembali oleh
insinyur M.J. Hulswit hingga selesai pada tahun 1901.
Pendirian Museum
Katedral diresmikan pada tanggal 28 April 1991 oleh Mgr Julius Darmaatmadja dan
diprakarsai oleh pastor kepala Katedral, Father Rudolf Kurris. Hal ini berawal
dari rasa cinta Kurris terhadap sejarah dan benda-benda bersejarah. Menurut
Kurris, benda-benda bersejarah itu dapat membangkitkan rasa kagum manusia
terhadap masa lampau dan keinginannya menyalurkan pengetahuan dari generasi ke
generasi. Museum Katedral ini berada di ruang balkon Katedral.
Di museum
Katedral, pengunjung bisa menjumpai berbagai benda suci pemberian Paus ketika
berkunjung ke Jakarta, Disamping itu, berbagai benda yang pernah dipergunakan
oleh Kardinal terdahulu bisa ditemui di museum ini. Di salah satu bagian
museum, kita bisa mempelajari berbagai sejarah para misionaris dari Belanda
yang menyebarkan agama Katholik di Indonesia pada jaman dahulu. Selain itu,
terdapat deretan foto para Kardinal yang bertugas dari masa ke masa.
Salah satu benda
bersejarah yang menurut saya cukup menarik adalah jurnal kuno Katedral yang
berisi daftar jemaat gereja yang dibaptis pada awal Katedral berdiri. Disamping
itu ada foto-foto kuno pada saat pembangunan Katedral. Sementara benda-benda
pemberian Paus antara lain adalah piala dan patena yang diberikan oleh Paus
Yohanes Paulus II saat berkunjung ke Katedral pada tahun 1989.
Bagi anda pemeluk
Agama Katolik yang sedang menjalankan misa di Katedral atau menghadiri upacara
pemberkatan pernikahan, tidak ada salahnya kalau mampir sejenak ke museum ini,
sambil mengenang sejarah Katedral pada masa lalu.
Menurut saya bagian
yang paling menarik adalah Katedral ini tepat berseberangan dengan Masjid
terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Hal ini merupakan salah satu simbol
kerukunan antar pemeluk agama di Indonesia yang bisa berjalan harmonis dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.

Komentar
Posting Komentar